Ramai-ramai Review Film di Media Sosial

Jakarta, options-direct.co.uk

Nisa sedang melihat-lihat linimasa Twitter ketika ia melihat akun @WatchmenID sedang mencuit utas tentang film Yuni. Ia pun membaca utas yang dibuat oleh akun tersebut.

Dari utas yang panjang itu, ada satu bagian cuitan yang mengundang perhatiannya. Yaitu, ketika akun tersebut mengatakan bahwa film Yuni menyuarakan permasalahan sosial Indonesia, terutama tentang pernikahan dini.

“Gue jadi nonton Yuni karena review-nya bagus. Di Twitter juga nge-hype, ‘kan, pas awal-awal Yuni keluar,” kata Nisa kepada CNNIndonesia.com belum lama ini.

Bagi Nisa, review oleh netizen di media sosial mempengaruhi preferensi dia dalam memilih film. Namun, ia berusaha untuk tidak membiarkan penilaian para pengulas film di medsos mempengaruhi penilaiannya sendiri terhadap film yang ia tonton.

“(Apakah review) mempengaruhi itu ya tergantung orangnya, tapi ngaruh di gue,” ujarnya. “Tapi, pas nonton udah dengan impresi gue sendiri.”

Nisa juga mengaku lebih memercayai akun review film di media sosial daripada review di media massa. Ia menjadi salah satu dari banyak orang yang memiliki preferensi tersebut seperti hasil jajak pendapat atau polling yang dilakukan CNNIndonesia.com.

Hasil jajak pendapat menunjukkan 80 persen atau 8.814 responden lebih percaya dengan review film oleh netizen di media sosial. Sedangkan, responden yang lebih percaya dengan review di media massa hanya mendapatkan 20 persen atau 2.222 responden dari 11.036.

Pengamat film Satrio Pamungkas menilai peran reviewer netizen memiliki pengaruh yang besar dalam mendorong penonton pergi ke bioskop. Meskipun, kata Satrio, penyampaian penilaian review itu disampaikan dengan cara yang nyeleneh.

“Makanya, bahaya banget orang-orang yang punya banyak followers kalau udah ngomong, diterima lho (oleh pengikut). Dia ngomong sampah aja diterima,” kata Satrio.

Baca Juga :  Fantastic Beasts The Secrets of Dumbledore

“Tapi, mudah-mudahan orang-orang itu bisa membawa hal-hal yang benar,” harapnya.

Selain itu, peran reviewer di media sosial dapat memunculkan perasaan fear of missing out (FOMO). Pengamat film dan budaya Hikmat Darmawan membandingkan film-film terlaris era 2010-an, seperti Laskar Pelangi (2008) dan Ayat-ayat Cinta (2012). Era tersebut perasaan FOMO dibangun lewat obrolan dari mulut ke mulut.

Hikmat mengamati bahwa para penonton film Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta bukanlah remaja yang biasa mengunjungi mal, melainkan ibu-ibu, hingga pegawai negeri sipil.

“Jadi, pada 2010, FOMO-nya itu lebih dari getok tular omongan fisik, bukan medsos,” jelas Hikmat lewat sambungan telepon.

Lanjut ke sebelah…


Penonton Dibuat FOMO

BACA HALAMAN BERIKUTNYA