Melukis Cerita Kehidupan di Bak Truk

Jakarta, options-direct.co.uk

Pernahkah Anda mengernyit atau tersenyum atau bahkan tertawa melihat tulisan dan lukisan di bak truk yang lewat di depan Anda? Apa yang Anda paling ingat?

Mungkin beberapa kalimat yang terasa seksime atau nyeleneh seperti “kutunggu jandamu” atau “lupa nama ingat rasa”? Atau mungkin kalimat-kalimat yang terasa seperti curhatan seseorang?

Apapun itu, lukisan dan kalimat-kalimat di bak truk tersebut sudah jadi pemandangan umum saat melintasi jalan raya nasional. Terutama bila jalan tersebut adalah penghubung antar kota dan antar daerah.

Tak ada yang tahu persis kapan pertama kali truk-truk pengangkut barang itu mulai menjadi kanvas dan wadah curhat para sopir, atau menjadi hiburan pengemudi lainnya yang jenuh menghadapi perjalanan.

Meski begitu, diduga lukisan truk tersebut setidaknya sudah ada sejak dekade ’90-an silam. Seperti yang dikisahkan salah satu pelukis truk di Jalur Pantura Cikarang, Jamari.

“Sejak tahun 1996-an,” kata Jamari soal awal kali dirinya menjadi pelukis truk, saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. “Waktu itu sudah ramai, tapi waktu itu dulu truk belum seberapa banyak kayak sekarang,”

Jamarimelukis dengan media truck, mini bus dan kendaraan roda empat kecil lainnya dari tahun 1996, yang diawali dengan teknik kuas lalu ke airbrush. (options-direct.co.uk/Andry Novelino)

“Namanya truk polos, mungkin sopir ingin kasih nama. Nama anak, usaha, untuk hiburan. Aksesori variasi mobil biar enggak terlalu polos,” lanjutnya.

Rasa cinta dan kebanggaan para sopir dan pemilik atas truk mereka pun mendorong kendaraan tersebut menjadi wadah komunikasi sekaligus kanvas berjalan.

Bahkan lebih jauh, lukisan truk bisa menjadi indikator perkembangan seni jalanan dan memotret cerita kehidupan yang sedang berjalan.

Baca Juga :  Khusyuk Yadnya Kasada Upacara Sakral Suku Tengger di Bromo

Hal itu terlihat dari berbagai tren objek yang berubah seiring zaman, teknologi pengaplikasian dari kuas menjadi airbrush dan kini stiker, hingga pesan yang memuat berbagai isu sosial yang terjadi saat itu.

[Gambas:Video CNN]

Nicholas Wila Adi dalam penelitiannya yang bertajuk Perkembangan Visual Seni Lukis pada Truk yang diterbitkan dalam Jurnal Seni Nasional CIKINI Volume 5, Juni-November 2019, mengatakan tema dan gambar pada lukisan truk menggambar berbagai isu yang memang terjadi di masyarakat.

“Isu-isu tentang perempuan dan seks, kemiskinan, keperkasaan laki-laki, perceraian, poligami, politik, dan agama telah menjadi tema yang umum di balik lukisan pada bak truk dalam kurun waktu 2009-2015,” tulis Nicholas.

Padahal pada mulanya, lukisan truk dibuat dan dipesan oleh para sopir sebagai wadah mereka untuk meluapkan perasaan yang tak bisa diungkapkan ke orang lain.

“Kalau orang umum mengekspresikan dirinya lewat status media sosial, mereka [sopir] ingin katarsis atau pelampiasannya lewat gambar, sehingga hasratnya tersalurkan,” kata akademisi komunikasi visual Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Sandi Jaya.

Pendapat Sandi itu didukung oleh pengakuan Jamari.

“Kebanyakan [pesanan] orang curhat. Jadi, misalnya kita punya masalah. Kalau curhat ke sesama manusia belum tentu diterima, belum tentu menerima keluhan kita. Kalau enggak kan malah sakit hati, jadi mendingan di truk-truk aja,” kata Jamari.

Sementara sebagian lainnya, hanya ingin agar truk mereka terlihat keren dan berbeda dari yang lain. Atau sengaja memilih objek yang nyeleneh dan ‘hot’ sebagai penyemangat sopir lain dalam menginjak pedal mengarungi rute yang panjang.

Gif banner Allo Bank

“Nilai estetikanya bertambah. Yang semula polos, enggak ada apa-apanya, jadi lebih estetik dan lebih berwarna,” kata Farid sopir asal Boyolali.

Baca Juga :  7 Fakta Menarik Anime Spy x Family yang Jarang Diketahui

“Kasarnya ya, kalau [lukisan] yang aneh-aneh, itu yang bikin melek,” kata Ade, mantan sopir truk lepasan. “Jadi kita ingin foto, atau jadi buat bercandaan sesama teman,”

Pada akhirnya, lukisan truk adalah sebuah fenomena unik yang terjadi di jalanan raya Indonesia. Fenomena yang menghibur para pengendara yang terjebak jemu di jalanan untuk mencari nafkah.

Fenomena sosial yang telah lama menghibur itu kini coba dibahas secara singkat dalam Fokus edisi Juli 2022, Tergelitik Lukisan Truk. Ada banyak cerita yang belum terkupas dalam Fokus kali ini, tapi setidaknya ini adalah sedikit usaha untuk memandang karya seni jalanan itu dengan sudut pandang berbeda dan bisa tersenyum karenanya.

(end/end)