Lukisan Truk, Ekspresi Seni yang Terpendam dari Balik Kemudi

Jakarta, options-direct.co.uk

Potret tokoh kenamaan hingga kutipan-kutipan nyeleneh jadi pemandangan umum saat melihat truk melintasi jalanan nasional. Bak truk yang memuat barang seringkali disulap jadi kanvas berisi berbagai gambar.

Fenomena lukisan truk itu sudah jadi hal awam bagi masyarakat Indonesia, terutama mereka yang sering melintasi Jalur Pantura atau jalur penghubung antar kota antar provinsi.

Meski seringkali terlihat hanya sebagai pemanis, akademisi komunikasi visual Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) Sandi Jaya menilai lukisan truk adalah ekspresi personal sopir atau pemilik truk.

“Dalam konteks komunikasi visual, itu bagian dari ekspresi ya, ekspresi keresahan personal. Itu sebenarnya komunikasi personal yang menggunakan medium gambar,” tutur Sandi.

Skala dan cakupan keresahan yang diungkapkan oleh para pemilik atau sopir truk ini beragam. Tak jarang, beberapa di antaranya berkaitan dengan isu-isu sosial seperti lukisan bergambar tokoh nasional diselipi kutipan “Enak jamanku, to?” atau “Gitu aja kok repot”.

Meski seringkali terlihat hanya sebagai pemanis, secara komunikasi visual, lukisan truk adalah ekspresi personal dari sopir atau pemilik truk. (Detikcom/Agung Pambudhy)

Tidak sedikit juga yang ingin menyuarakan isu-isu domestik, seperti hubungan dengan istri, atau pesan untuk keluarga. Beberapa yang sering dijumpai biasanya berbunyi “Pulang malu, nggak pulang rindu” hingga “Tiada kata seindah doa”.

Berkaitan dengan hal tersebut, Sandi juga melihat lukisan truk sebagai media katarsis, yakni sarana bagi sopir dan pemilik truk untuk meluapkan emosi atau hasrat mereka.

“Kalau orang umum mengekspresikan dirinya lewat status media sosial, mereka [sopir] ingin katarsis atau pelampiasannya lewat gambar, sehingga hasratnya tersalurkan,” tuturnya.

Baca Juga :  FOTO: Ritual Penghormatan untuk Dewi Bumi di Bolivia
Gif banner Allo Bank

Setiap lukisan di bak truk juga dianggap memiliki gaya yang relatif sejenis antara satu sama lain. Sandi menilai, berdasarkan gambarnya, lukisan-lukisan itu termasuk aliran atau gaya realis.

Ada dua konteks yang dibawa dalam aliran tersebut, yakni berkaitan dengan realitas sosial dan usaha menggambar objek dengan semirip mungkin.

Realis dalam konteks realitas sosial berarti gambar atau teks yang dilukis berasal dari isu yang nyata di masyarakat. Isu tersebut kemudian dilukis semirip mungkin, tanpa menghadirkan unsur-unsur abstrak yang ekspresif dan personal.

“Konteks realis itu mengambil semirip-miripnya secara estetika gambar,” kata Sandi. “Saya tidak melihat gambar yang ada di truk itu bentuknya ekspresif semacam abstrak. Mungkin enggak ada ya, yang ekspresinya di luar realitas.”

Selain itu, gaya realis juga terlihat dari tipografi yang dipakai seniman lukis truk dalam karya mereka. Sandi mengatakan para pelukis menggunakan jenis tipografi yang umum kala menulis kutipan-kutipan dalam lukisan truk.

Entah alami atau disengaja, yang jelas gaya realis dipilih agar keresahan sopir truk bisa tersampaikan. Aliran ini juga jauh lebih memudahkan masyarakat awam mendapatkan pesan lukisan tersebut.

Infografis - Tiada Kata Selucu Quote di Bak TrukInfografis – Tiada Kata Selucu Quote di Bak Truk. (options-direct.co.uk/Astari Kusumawardhani)

Meski begitu, fenomena lukisan truk dari sudut pandang karya seni ini belum termasuk dalam kategori seni murni atau ‘fine art’.

Sebuah karya, menurut Sandi, baru bisa dikatakan sebagai fine art jika telah melewati sistem kuratorial, dipamerkan di galeri, dibahas di media massa, dan dikritik oleh kritikus. Sementara, seni lukis truk umumnya sejauh ini hanya ditujukan sebagai pemanis dan hiasan bak truk.

“Enggak semua lukisan itu seni juga, ada yang hanya pajangan saja, Jadi ini sebagai pajangan di truk agar lebih meriah dan memberi identitas.” tutur Sandi.

Baca Juga :  Cosplayer Memilih, Tampil Kawaii atau Kakkoii

(frl/end)

[Gambas:Video CNN]