Hanyut dalam Lantunan Langgam Ayat Suci Al-Qur’an

Jakarta, options-direct.co.uk

Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an seringkali terasa berbeda saat acara tertentu ketika dibawakan oleh para qari. Mereka melantunkan ayat dengan nada khas dan membuat pendengarnya khusyuk menyimak, bahkan hanyut dalam emosi.

Hal itulah yang mungkin terjadi ketika aktivitas “mengaji” digabung dengan seni suara. Cara membaca ayat Al-Qur’an dengan lagu atau langgam ini biasanya dilakukan oleh para qari-qariah dan sejatinya sudah akrab dalam masyarakat Indonesia.

Cara membaca Al-Qur’an dengan lagu atau “an-nagham fil Qur’an” ini bukan sembarang memberikan irama saat membaca ayat. Lagu yang diterapkan dalam membaca ayat suci ini haruslah harmonis tanpa menyalahi hukum-hukum bacaan alias tajwid.

Tidak diketahui secara persis siapa yang pertama kali melagukan ayat suci Al-Qur’an. Meski begitu, Pakar Qiraat Saba dan Akademisi Institut PTIQ Jakarta K.H. Muhsin Salim mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pada dasarnya mempraktikkan hal ini.

“Nabi Muhammad SAW sendiri membaca kitab suci Al-Qur’anul Karim dengan lagu yang begitu indah. Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saat salat Isya, Nabi membaca Surat At-Tin,” kata KH Muhsin Salim.

“Makmum, para sahabat, mendengar lagu Nabi yang begitu indah. Dengan peristiwa itu, maka dapat dikatakan Nabi sendiri yang mempraktikkan lagu-lagu Al-Qur’an yang ada. Itu dasarnya,” lanjutnya.




Ilustrasi. Cara membaca Al-Qur’an dengan lagu atau “an-nagham fil Qur’an” bukanlah sembarang memberikan irama saat membaca ayat suci. (iStockphoto/CihatDeniz)

Lalu apa manfaat melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan lagu? Menurut beberapa pendapat, manfaat melanggamkan ayat suci Al-Qur’an ini memungkinkan ayat suci lebih meresap ke dalam hati dan memberi bekas kepada jiwa pembaca maupun pendengarnya, persis seperti contoh kasus di atas.

Efek syahdu nan khusyuk yang muncul dari cara membaca Al-Qur’an dengan langgam ini pula yang membuat teknik ini menjamur di Indonesia seiring dengan perkembangan Islam dan pendidikan ala pesantren.

Bahkan lebih jauh, muncul berbagai lembaga pelatihan hingga kompetisi pencarian bakat qari-qariah yang berjalan setiap tahunnya sejak 1968 dan dikenal sebagai Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

MTQ bukan hanya ada di tingkat nasional, melainkan berkembang hingga ke akar rumput, ke sekolah-sekolah, kelurahan, kecamatan, kota, hingga provinsi. Di tingkat internasional, MTQ juga digelar dan Indonesia terbilang rajin menjadi juaranya.

Sebut saja Maria Ulfah, qariah Indonesia yang berhasil menjadi Juara 1 Kompetisi Tilawah Al-Qur’an Tingkat Internasional pada 1980. Begitu pula dengan Mu’min Ainul Mubarak pada 2008. Pada 2019, Indonesia dilaporkan mencetak lima juara satu MTQ Internasional.

Namun untuk bisa membawakan ayat suci Al-Qur’an dengan lagu hingga indah bukanlah perkara mudah. Hj Maria Ulfah bahkan menyebut butuh kebersihan hati juga adab selain daripada latihan teknik vokal, pernapasan, tajwid, dan sebagainya.




Peserta mengikuti lomba Musabaqah Tilawah Quran (MTQ) dan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) di Kodim 0710 Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (23/3/2022). Selain dalam rangka menyambut datangnya bulan suci ramadhan, Kodim 0710 Pekalongan mengadakan lomba MTQ dan MQK yang diikuti sebanyak total 228 santri yang bertujuan untuk menciptakan generasi muda muslim yang religius dan berkualitas serta ahli dalam Al Qur'an. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana PutraIlustrasi. MTQ bukan hanya ada di tingkat nasional, melainkan berkembang hingga ke akar rumput, ke sekolah-sekolah, kelurahan, kecamatan, kota, hingga provinsi. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

“Qori atau qoriah enggak boleh sakit maag, jadi diafragma ini, tempatnya napas, kalau otot perut di sini lemah ya napasnya pendek, paru-parunya [harus] sempurna enggak boleh enggak sehat,” kata Hj Maria Ulfah.

“[Niatnya] Ibadah, bukan mencari hadiah. Enggak boleh niatnya mencari hadiah, karena Al-Qur’an ini lain dengan olahraga. Kalau atlet olahraga itu tidak apa-apa niatnya mencari hadiah,” katanya.

Qari muda, Anggi Putri Suhadi, juga merasakan perjuangan yang besar untuk menjalani proses sebagai qariah. Ia bahkan sampai menangis menghadapi berbagai kesulitan untuk bisa melanggamkan ayat suci Al-Qur’an sesuai standar.

Meski begitu, girah dakwah Islam melalui melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan cara indah ini tak hilang dalam benak muslim Indonesia. Terbukti, tiap tahun MTQ selalu dipadati ribuan peserta yang unjuk gigi hasil jerih payah latihan mereka.

Kini, CNNIndonesia.com mengulas sedikit soal seni membaca Al-Qur’an dengan lagu dalam Fokus edisi April 2022: Seni Mengaji Al-Qur’an dengan Indah yang rilis menjelang malam 17 Ramadan alias malam turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Quran.

Terlepas dari segala kekurangan, ada asa serangkaian kisah yang tersaji dalam Fokus ini bisa ikut menyemarakkan perayaan Nuzulul Quran sebagai rasa syukur bisa menjalani Ramadan dengan kondisi pandemi yang semakin membaik.

(end)

[Gambas:Video CNN]





Baca Juga :  Lantunan Sejarah Panjang Seni Langgam Al-Qur'an